Mathasan Kamalengan Egubang Dhari Budih

Idul Fitrih 1435 H
Teringat masa kecil lalu dengan salah satu istilah dalam bahasa Madura “Mathasan Kamalengan Egubang Dhari Budih”. Kurang lebihnya begitulah ungkapan tersebut yang kerap didengar dan diucapkan menjelang hari raya idul fitrih.

Sepertinya sudah merupakan hal yang lazim, hari raya identik dengan baju baru, sepatu baru, celana baru, dan semua serba baru. Tapi dulu sewaktu kecil asal sudah ada baju baru sudah luar biasa. Yang penting hari raya ada baju baru sebagai ganti “Asalenan”.

“Tellasan Tak Aselesan Kalambi Se Bilen Elih Belih”. Hari raya tak ada baju baru, baju yang lama di pakai kembali. Masa kecil dulu Alhamdulillah meskipun hanya sekedar selembar baju baru masih tiap tahun mendapatkan jatah dari orang tua. Istilah tersebut tidak berlaku untuk saya, walau ada juga teman sebaya waktu yang “Tellasan KamalenganHari Raya Tak ada baju baru.

Masa kecil dulu menunggu datangnya hari raya seakan lama sangat. Seminggu seakan sangat lamban untuk dilalui menunggu datangnya hari raya, pakai baju baru, berangkat kemasjid untuk ikutan sholat ied dengan baju yang serba baru dan serba kebahagiaan di hari raya karena penuh kue dan makanan yang enak.

Waktupun terus berputar, kebiasaan itu sepertinya harus pula ditinggalkan meskipun secara tidak langsung menjadi warisan bagi anak-anak. Beberapa waktu lalu sisulung sudah menghitung hari datangnya hari raya. Menghitung hari tersebut sudah dapat ditangkap bahwa baju baru akan segera dibelikan.

He.. he… namanya juga anak-anak, tak jauh beda dengan masa saya anak-anak dahulu. Namun lebaran kali ini bukan menjadi masalah sekalipun Mathasan Kamalengan, dan Alhamdulillah pertanyaan anak-anak sudah terjawab untuk merayakan hari raya dengan baju baru mereka sekalipun puasa yang dilakukan hanya sampai bedug dhuhur, bahkan makan sahur bareng, tapi paginya udah minta sarapan pagi.

Subhanallah, karuna Allah tidak pernah di duga dan sungguh luar biasa. Uang sebesar 200 ribu sangat berarti demi membelikan baju baru anak-anak yang tidak seberapa, sekalipun harus mengalah dengan baju tahun lalu yang dipakai kembali. Semoga tetap mendapatkan khidmat idul fitrih sekalipun tanpa baju baru. Semoga Allah memberikan suasana hati yang lebih baru dan lebih cerah dari warna baju baru. Aamiin….

Tulisan Tengah Malam

Alhamdulillah segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam yang telah memberikan nikmat luar biasa sekalipun diri ini masih terlalu sering mengingkari nikmat tersebut dengan kurangnya mensyukuri apa yang telah Allah berikan sebagai karunia dan kenikmatan dalam menjalani kehidupan ini.

Entah apa yang menjadikan jari jemari ini ingin kembali menari dan merangkaikan kata demi kata walau sangat mungkin hanyalah kata tak bermakna bagi orang lain, namun ini adalah suatu makna luar biasa yang diberikan Allah pada kesempatan kali ini. Nikmat iman untuk tetap bisa mengingat nama-Nya sekalipun tidak sebanding dengan nikmat yang telah diberikan-Nya.

Tak cukup dengan menyebut nama-Nya yang agung, tak cukup hanya dengan bersyukur berucap kata Alhamdulillah sebagai ungkapan rasa syukur terhadap segala nikmat yang telah saya rasakan. Seandainya waktu 24 jam yang telah diberikan dipergunakan untuk beribadah, rasanya belum cukup untuk dijadikan ungkapan syukur atas segala nikmat.

Namun, diri ini sebagai hamba yang bodoh dan lemah, hanya hal itulah kemampuan yang dapat dilakukan untuk mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan, terlebih nikmat iman dan islam sehingga masih ada kesempatan untuk mengingat-Nya meskipun hanya dalam sepenggal kata ucap Alhamdulillah.

Hanya ingin menulis dan menjadikan tulisan ini bahwa selama ini diri ini terlalu banyak melupakan sang Khalik, terlalu jauh dari nama-nama Agungnya untuk sekedar menggerakkan bibir menyebut nama-Nya, apa lagi sujud berucap terima kasih dan berharap ridho-Nya.

Subhanallah, maha suci Allah yang masih memberikan karunia pada hamba-Nya yang teramat hina dan nista. Sungguh tiada arti diri ini tanpa kuasa dan pertolongan-Nya. Apa yang dapat disombongkan diri ini sekalipun memiliki badan yang kuat, harta yang melimpah, atau taat dalam beribadah sekalipun tanpa kuasa-Nya.

Diri ini terlalu sering menilai orang lain tentang hal negative yang dimiliki, sementara diri ini belum tentu lebih baik dari orang tersebut menurut penilaian-Nya. Tak jarang diri ini merasa telah banyak beribadah, banyak berbuat baik sehingga sangat mudah menilai rendah orang lain. Tak sadar bahwa diri ini melakukan ibadah sekalipun atas nikmat dan karunia-Nya. Jika sang kuasa berkehendak. Tak ayal diri ini akan semakin jauh dan terus menjauh dari-Nya.

Subhanallah, Alhamdulillah atas segala nikmat sehingga diri ini masih diberikan kesempatan untuk menggerakkan bibir ini untuk mengucapkan nama yang mengagungkan kebesarannya. Tanpa nikmat dan karunia-Mu, sangatlah mungkin bibir ini membeku laksana es, sangatlah mungkin hati ini akan keras sekeras batu yang hitam legam.

Aku Hanya Bisa Mengaku Cinta Indonesia

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia sekalipun berada pada strata terendah yaitu sebagai rakyat Indonesia seharusnya memiliki rasa cinta terhadap negeri tercinta sebagai tempat dimana kita dilahirkan, tumbuh besar dan mengerti banyak hal tentang hidup dan kehidupan selama ini.

Tiga puluh tahun lebih menghirup udara segara dibumi pertiwi, tumbuh besar dan memiliki pola berpikir yang lebih luas tentang cinta tanah air, cinta bangsa, cinta Republik Indonesia. Namun apa sebetulnya yang telah kita persembahkan sebagai rasa cinta kita terhadap negeri tercinta ini. Apakah sudah pantas dikatakan cinta terhadap negeri ini dengan apa yang telah dilakukan selama ini, selama mengerti dan memiliki pandangan tentang arti cinta tanah air dan bangsa. Walau tidak dapat dipungkiri bahwa Aku dan Indonesia adalah sebuah kesatuan yang Alhamdulillah sampai saat ini merupakan suatu bagian yang tidak terpisahkan.

Telah banyak yang telah aku dapat dari negeri ini, sekalipun tak sebanding dengan apa yang telah aku dermakan untuk Indonesia.

Secara akal, diri ini hanyalah bagaikan benalu yang selalu menempel dan menghisap sari pati yang akan menumbuh besarkan Indonesia. Dan itulah kemampuan yang aku miliki sebagai ungkapan rasa cintaku terhadap negeri ini. Tetap berusaha menjunjung langit dimana bumi dipijak meskipun bukan sebagai tiang yang kokoh untuk menupang langit Indonesia dengan kemampuan dan kekuatan yang terbatas.

Apa yang dapat aku banggakan sebagai bagian dari negeri tercinta ini. Apa yang menjadi kebanggaan Aku dan Indoensia.

Sedikit cerita singkat tentang pengalaman hidup sebagai bukti bahwa aku adalah Indonesia.

36 tahun silam aku dilahirkan, tumbuh besar dan mengeyam pendidikan yang tidak seberapa dari system pendidikan negeri ini. Sesuatu yang harus disyukuri dengan sistem pendidikan negeri ini, meskipun tidak menjadikan aku sebagai orang yang pintar, namun telah memberikan pengetahuan sehingga aku bisa berpikir lebih jauh tentang menapak kehidupan menuju masa depan.

Keputusasaan yang pernah ada telah mengantarkan diri ini pada salah satu jalan dari pertolongan-Nya, tahun 2003 meskipun pada sesuatu yang tidak terlalu berharga, namun pernah mengusung sang merah putih dan menempelkannya di dada sekalipun hanya bendera kecil yang dilekatkan di dada bersama dengan lambang garuda. Sesuatu yang membanggakan diri sekalipun tidak memberikan sesuatu yang membanggakan bagi negeri ini. Apakah pantas dikatakan aku cinta indonesia sementara aku hanya bisa membanggakan garuda dan merah putih tanpa membeirkan sesuatu yang berarti.

Saat ini aku hanya menjadi orang yang mau berbagi, walau secara jujur pendidikan yang dimiliki tidak sepadan untuk mengutarakan rasa cinta terhadap negeri ini. Lebih sering mengeluh dengan sistem yang ada, seakan diri ini menjadi bagian yang sangat tidak berarti dan dikesampingkan oleh sistem negeri ini. Menjadi salah satu bagian dari pendidikan negeri ini yang tujuan awal adalah mendapatkan penghasilan dari tindakan tersebut. Sering mengeluh apabila ada usulan yang tidak sesuai dengan harapan. Secara jelas saja diri ini merasa tersisih jika yang lain mendapatkan tunjangan lebih, sementara diri ini merasa pengabdian untuk negeri tidak mendapatkan penghargaan (upah yang setimpal). Apakah masih pantas menganggap diri ini cinta Indonesia??

Sedikit menyadari dalam kesendirian bahwa yang dilakukan untuk negeri ini bukan semata untuk kepentingan negeri, masih lebih terarah pada kepentingan pribadi. Apa yang telah dilakukan diri ini secara tulus sebagai ungkapan rasa cinta terhadap negeri ini. Aku dan Indonesia hanyalah bagian yang sampai saat ini sebagai bagian yang tak terlepaskan walau lebih banyak menjadi benalu bagi negeri ini untuk kepentingan diri. Lebih mementingkan diri demi mementingkan kemajuan negeri mendatang, sekalipun hal tersebut sering aku tutupi dengan ungkapan yang seolah-olah dapat diterima dengan akal yang sehat dan rasional.

Ungkapan yang sebenarnya tidak rasional tersebut coba saya tuliskan pada postingan singkat ini dan mencoba berpartisipasi dalam Kontes Unggulan Aku Dan Indonesia
Kontes Unggulan Aku Dan Indonesia

Kemana Ku Labuhkan Pilihan Presidenku

Hari pemilihan semakin dekat, kampanyepun sudah mulai dilakukan dengan berbagai metode untuk menyampaikan visi dan misi dari dua pasangan calon yang siap memperebutkan kursi kepresidenan lima tahun mendatang. Tentu saja masing-masing pasangan capres memiliki visi dan misi yang positif untuk memajukan negeri ini dan menciptakan masyarakat yang madani, makmur, sejahtera, serta aman tentunya sebagai tujuan utama dari perebutan kekuasaan tersebut.

Sepertinya tak cukup dengan menyampaikan visi dan misi kepresidenan untuk lima tahun mendatang, trik dan teknik saling menjatuhkan antar pasangan kandidatpun sepertinya mulai dilakukan dengan berbagai cara terlebih kampanye melalui berbagai social media. Secara langsung ataupun tidak antara pasangan calon sepertinya saling mengumbarkan titik lemah masing-masing lawan politik mereka. Entah yang dikabarkan merupakan kabar positif dan dapat dibuktikan kebenarannya, atau sekedar kabar burung dan sekedar opini dari pola berpikir masing-masing personal yang memiliki kecondongan untuk mendukung salah satu pasangan calon.

Sementara diantara kampanye dengan menyampaikan visi dan misi, saya menilai merupakan visi dan misi yang luar biasa dari kedua pasangan calon untuk mewujudkan pembangunan negeri ini lima tahun mendatang tentu selama masa kepemimpinan. Kampanye yang saling menjatuhkanpun belum memberikan sebuah kebulatan tekad untuk menentukan pilihan pada salah satu pasangan calon yang akan menjadi pemimpin negeri ini.

Kemana Ku Labuhkan Pilihan Presidenku, masih belum ada keteguhan untuk menentukan pilihan sekalipun nantinya yang menjadi pilihan yang kalah dan tidak akan menjadi presiden RI, namun aku harus menentukan pilihan. Secara syar’I harus memiliki sebuah pilihan dengan berbagai pertimbangan. Namun secara akal belum mampu untuk melakukan pertimbangan tersebut. Mengajukan pertanyaan kepada orang terdekat, siapa yang harus aku pilih dalam pilpres mendatang, pasangan Jokowi-JK atau Prabawo-Hatta Rajasa? Jawaban yang diperoleh masih tetap tergantung kemana kecondongan orang yang ditanya terhadap salah satu pasangan calon dengan berbagai alasan yang kuat tentu saja. Jika bertanya pada pendukung Jokowi-JK, tentu saja pasangan tersebut adalah pilihan presiden terbaik, begitu pula sebaliknya jika bertanya pada orang yang kebetulan mendukung pasangan Prabowo-Hatta Rajasa.

Bahkan ada sebuah status melalui social media dengan ajakan untuk mempergunakan suara pada pemilihan presiden mendatang. Jangan sampai pilih dengan nomor urut pasangan calon.
  1.  Prabowo – Hatta Raja Sah
  2. Jokowi – Jusuf Kallah
Namun semua masih saya anggap sebagai salah satu trik untuk memenangkan pasangan calon yang didukung dengan menarik simpati.

Kemana Ku Labuhkan Pilihan Presidenku, apakah harus golput atau apa yang harus kulakukan pada pemilihan presiden mendatang. Ada saran????

Perbincangan Ringan Tentang Rejeki

Sebut saja namanya Ali, seorang karyawan di salah satu lembaga pendidikan. Ali adalah salah satu karyawan yang kreatif dan disiplin selalu menampakkan wajah riang dengan senyuman setiap berpapasan dengan karyawan lain maupun siswa/siswi di lembaga pendidikan tersebut.

Bukan hanya ramah dan memiliki kedisiplinan, Ali juga dikenal sebagai salah satu karyawan yang memiliki paras wajah ganteng dibandingkan dengan teman-teman lainnya.

Pagi itu, beberapa karyawan yang sedang tidak memiliki aktifitas rutin duduk bersantai disalah satu ruangan lembaga tersebut sambil menikmati kopi hangat yang diseduh dengan air dispenser yang terletak disudut ruangan. Meskipun hanya salumi, kepuasan menikmati kopi hangat sangat terasa pagi itu. Ali, Ahmad, Lukman, dan Azis sambil menikmati kopi saset hangat yang diseduh dengan air dispenser diisi dengan perbincangan ringan seputar aktifitas harian dan banyak hal lain, terkadang secara tak sengaja bersamaan meraih gelas berisi kopi yang sudah mulai dingin dan tinggal separuh gelas.

Sementara, karyawan yang lain sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ada yang sedang mengurus administrasi, ada yang sedang berada dikelas dan berbagai aktifitas lain mereka kerjakan. Sementara mereka berempat tetap santai dalam perbincangan ringan sambil menunggu giliran untuk melakukan aktifitas rutin. Azis sambil menimpali obrolan sedidkit sibut dengan buku oretan yang sepertinya sudah cukup berumur yang dikeluarkan dari dalam tasnnya.

Ternyata dibalik keriangan dan keceriaan pagi hari itu, sejuta masalah tersimpan dibalik raut mereka yang penuh canda. Apalagi jika bukan masalah ekonomi yang kerap menerpa tenaga honorer. Dengan gaji pas-pasan mereka harus memenuhi kebutuhan keluarga, namun keriangan yang mengisi hari-hari mereka berkumpul seakan masalah itu tidak pernah ada, dan mereka terus tetap bertahan hidup tanpa adanya keluhan kekurangan dana hidup dari gaji mereka yang sangat minim.

Apakah keadaan itu memang disembunyikan, ataukah mereka memang sudah tidak memperdulikan tentang kenyataan tersebut. Terlihat jelas wajah harap demi perbaikan nasib mereka melalui kebijakan pemerintah, walau tak dapat dipastikan kebijakan pemerintah akan memperbaiki nasib hidup mereka.

Ah, sudahlah. Bagaikan “Malappaen Manok Ngabeng” membicarakan hal tersebut, sahut Ahmad pada salah satu kutipan percakapan yang mereka lakukan.

Bagaimana sih kak cara mendapatkan rejeki yang mudah dan banyak, pecah Ahmad membuka sebuah pertanyaan menjadikan obrolan ringan itu terus berlanjut.

Pesugihan, maling, atau korupsi aja kalau ada kesempatan, dijamin cepat kaya. Timpal Azis ketus dengan tetap mengerjakan sesuatu pada buku oretannya.

Ketawa pun pecah diantaranya. Bagaimana kita korupsi, dan apa yang akan kita korupsi. Paling-paling hanya akan menimbulkan masalah, bikin kaya itu mustahil, sahut Lukman nyantai.

Ada cara lain yang lebih mudah selain cara-cara tersbut dan lebih aman, tanpa harus berurusan dengan pihak lain dan tidak dianggap sebuah dosa dihadapan Tuhan. Tanya Ahmad lagi.

Azis menyudahi kegiatan orat-oretnya, sambil menghisap rokok yang selalu melekat dijarinya diangkat bicara. Kunci orang sukses dengan penghasilan luar bisa itu sebetulnya sangat mudah. Cukup dengan satu amalan yang Insya Allah akan mendapatkan pahala besar dan rejeki yang melimpah. Cukup dengan membiasakan berucap ALHAMDULILLAH pada setiap kejadian yang terjadi. Sesuatu yang membahagiakan kita mengucapkan Alhamdulillah, ditimpa suatu musibah kita juga bisa mengucapkan kata tersebut dengan tulus.

Gampang terucap namun sulit untuk diucapkan, kata Ali. Dengan selalu bersyukur terhadap yang kita peroleh apakah itu banyak atau sedikit, bahkan jika yang kita dapatkan sama sekali seakan tidak ada namun kita dapat mensyukurinya maka kita akan menjadi orang sukses dan kaya raya.

Jarum jam sudah menunjukkan waktu 09.15, terdengar bel sekolah berdentang dan obrolan itupun berakhir tanpa ada sebuah kesimpulan yang dihasilkan, bahkan setetes kopipun tidak tersisa pada gelas yang dipergunakan dan menyisakan ampas kopi serta beberapa puntung rokok diasbak atas meja.

Pemilihan Umum Untuk Kepentingan Umum atau Kepentingan Golongan?

Pemilihan Umum Untuk Kepentingan Umum atau Kepentingan Golongan?Kepentingan umum diatas kepentingan pribadi atau golongan adalah salah satu cerminan nilai yang terdapat pada undang-undang dasar 1945 dan menjadi acuan sebagai landasan Negara Republik Indonesia. Mementingkan kepentingan pribadi ataupun golongan sebagai salah satu bentuk pengkhianatan terhadap undang-undang 1945, dan siapapun yang telah melanggar dianggap sebagai pengkhianat bangsa yang telah berkhianat terhadap undang-undang dasar 1945 sebagai acuan hidup berbangsa dan bernegara Republik Indonesia. Itulah sedikit yang saya ingat tentang pelajaran yang pernah diperoleh masa sekolah tempo dulu.

Jangan sampai melakukan hal yang melanggar undang-undang karena merupakan pelanggaran dan dapat dianggap sebagai pengkhianatan terhadap Negara yang kita cintai. Namun, apakah hal tersebut masih berlaku untuk saat ini?

Pemilihan calon legeslatif beberapa waktu lalu. Dari beberapa calon yang saya ketahui berusaha untuk menang dengan menggunakan berbagai cara untuk memenangkan pemilihan umum dan memenangkan suara terbanyak serta tercapai tujuan menjadi anggota legeslatif dengan tujuan mulia untuk kepentingan dan kemaslahatan masyarakat. Benarkah hal tersebut untuk kepentingan masyarakat dengan satu cita-cita mulia melalui jalur legeslatif untuk menciptakan pembangunan yang lebih merata dan baik dirasakan semua lapisan masyarakat.

Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Sebait lagu dari sang legendaris dan terkenal dengan julukan raja dangdut. Uang politik dan politik uangpun terjadi demi tercapainya sebuah tujuan. Bukan sesuatu hal yang ironis kejadian tersebut. Bahkan tak jarang agama menjadi kendaraan politik untuk mendapatkan kemenangan dan tercapainya kursi legeslatif yang menjadi idaman.

Segala bentuk upaya dan usaha yang dilakukan bahkan dengan mengeluarkan modal yang tidak sedikit untuk kepentingan umum dan masyarakat? Seakan tidak mau dirugikan dan tidak ada tujuan terselubung dari kegiatan tersebut. Benarkah hal tersebut?

Semua upaya dan usaha yang mungkin saja dapat dikatakan sebagai sesuatu yang tidak dibenarkan secara aturan main dalam perhelatan politik akan menjadi sebuah tindakan pembenaran untuk tercapainya sebuah tujuan dilandasi dengan cita-cita mulia untuk kepentingan umum dan mengesampingkan kepentingan pribadi atau golongan.

Partai politik dan calon legeslatif berjuang dengan modal besar untuk kepentingan umum, tidak ada tujuan memperkaya diri apa lagi sekedar untuk dapat mengatur birokrasi pemerintahan untuk kepentingan pribadi dan golongan melalui jalur legeslatif. Semua untuk kepentingan bangsa dan Negara demi terciptanya kehidupan masyarakat yang madani tanpa harus menginjak nilai kemanusiaan dan keadilan.

Mengesampingkan kepentingan partai terlebih lagi kepentingan dari pribadi-pribadi yang tidak berarti dan tidak mengerti tentang birokrasi. Semua sekedar untuk membodohi mereka yang sebenarnya pintar atau bahkan sama sekali tidak perduli dengan apa yang akan terjadi.

Tujuan utama untuk kemaslahatan bersama, tidak perduli dengan seberapa banyak modal yang dikeluarkan dengan niat jihad melalui harta yang dimiliki dan memanfaatkan kekuatan harta untuk tercapainya sebuah tujuan kursi legeslatif dan memperjuangkan kemaslahatan dan tercapainya masyarakat madani melalui pengaturan birokrasi yang menguntungkan masyarakat sekalipun mereka sendiri babak belur dan hancur lebur.

Apakah bukan sebuah penghkhianatan terhadap landasan hidup Negara Republik Indonesia jika pada kenyataan tidak seperti yang dibicarakan. Apakah jadinya jika dalam birokrasi diisi oleh sebagian besar para pengkhianat undang-undang dan mengaku taat dan patuh terhadap Undang-Undang Dasar 1945.

Mohon maaf sekedar tulisan yang tak menentu dan tidak dapat ditarik sebuah makna dari kalimat yang terurai. Karena inilah kemampuan dan pemahaman yang dimiliki penulis dalam memahami kehidupan terlebih lagi mengerti tentang kehidupan politik dan berbagai aturan birokrasi pemerintahan. Tanpa landasan dan pengetahuan yang memadai, hanya berdasarkan pola berpikir yang terlalu sederhana dan sangat mungkin sangat menyimpang dari kebenaran yang ada.

Sehari Tanpa Gadget dalam Kehidupan

Teknologi selalu melakukan inovasi terbaru menghadirkan gadget yang semakin canggih dengan kelengkapan yang luar biasa. Jika dahulu gadget hanya berfungsi sebagai alat komunikasi dan itupun hanya dapat melakukan panggilan suara dan pesan singkat, saat ini gadget sudah memberikan fasilitas yang luar biasa, bahkan sangat bisa dikatakan bahwa dunia saat ini berada dalam genggaman.

Informasi dari belahan bumi manapun dapat kita ketahui dalam hitungan detik, komunikasi dengan orang dari belahan bumi juga dapat dilakukan dalam waktu yang sangat singkat layaknya berhadapan langsung dengan teknologi video calling yang sudah dimiliki oleh gadget terbaru didukung dengan teknologi telekomunikasi yang selalu melakukan peningkatan kualitas.

Sehari tanpa gadget bagaikan sehari melepaskan dunia. Tertinggal gadget beberapa menit saja mungkin kita akan ketinggalan informasi terkini, kita akan menjadi orang katro yang ketinggalan informasi dan menjadi orang yang planga plongo karena kebingungan dan kurang memahami informasi yang dibicarakan orang-orang disekitar kita.

Melirik jauh kesana… masih ada bahkan mungkin banyak orang yang belum mengenal apa itu gadget, mereka yang belum mengetahui tentang perkembangan dari sisi dunia lainnya. Mereka hanya mengetahui apa yang ada di dekat mereka, tanpa membingungkan informasi dan kehidupan lain yang jauh dari mereka yang tidak akan mudah diketahui tanpa adanya gadget. Bahkan mereka hanya mengerti bagaimana memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari tanpa harus memikirkan yang lain, apa lagi harus memikirkan untuk memiliki gadget dan mengetahui informasi yang jauh dari luar sana.

Mereka tidak kebingungan sekalipun hari-hari tanpa gadget, bahkan sangat mungkin mereka masih memberlakukan hokum sehari makan sehari tidak. Hari ini makan, mungkin esok dan lusa harus berpuasa.

Inspiratif menggugah dengan tema sehari tanpa gadget untuk memberikan kesadaran atau mungkin sekedar ingin mengetahui apa yang dirasakan jika terlepas dari gadget pada masa serba teknologi canggih saat ini.

Berbagai opini dan argumentasi, namun jika melirik jauh masih ada bahkan banyak orang yang tidak memperdulikan gadget, bukan sekedar untuk mengetahui informasi luar atau kegiatan lain, bahkan terkadang mereka pergi jauh tanpa harus mengetahui kabar keluarga yang ditinggal karena tidak ada gadget di tangan.

Subhanallah, Allah telah memberikan kemudahan bagi kita untuk menyusuri belahan bumi tanpa harus meluangkan banyak waktu, modal dan tenaga. Namun disisi lain kehidupan kita masih banyak orang-orang yang harus berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.