Harga Sebuah Kebebasan Berpolitik

Pemilu LuberKehidupan politik, kehidupan yang seakan penuh dengan trik dan intrik. Penuh cara untuk tercapainya sebuah tujuan dan mengantongi status kesuksesan. Berbagai cara serta metode demi pencapaian sebuah tujuan tersebut. Terkadang trik dibarengi dengan intrik.

Trik dan intrik seakan tak dapat terpisahkan, ada cara didalam sebuah metode untuk lebih melancarkan sebuah teknik pencapaian suatu tujuan. Kampanye menyampaikan orasi politik sebagai salah satu trik untuk mendapatkan simpatik dari para pemilih. Hal tersebut merupakan sesuatu yang sering kita jumpai dan kita dengar. Program kerja yang luar biasa dan ditargetkan demi mencapai dukungan dari khalayak.

Intrik dari sebuah kampanye dalam bentuk kampanye dama, memberikan uang saku sebagai bekal untuk menuju tempat pemungutan suara. Bukan money politik, namun bekal yang diberikan para kandidat untuk para calon pemilih. Tak jarang satu pemilih mendapat bekal dari beberapa kandidat. Bahkan yang lebih unik adanya tawar menawar antara tim kandidat dengan calon pemilih. Semacam tawar menawar harga uang saku yang akan diterima.

Apakah hal tersebut merupakan sesuatu yang salah? Jika hal tersebut merupakan sebuah kesalahan, siapa yang patut dan seharusnya disalahkan? Kandidat atau para calon pemilih?

Disebuah daerah bahkan sempat terdengar adanya pengembalian uang saku jika uang saku yang ditawarkan kandidat lain lebih tinggi. Hari itu juga uang saku yang telah diterima dikambalikan melalui tim yang menyampaikan uang saku tersebut. Uang saku yang dikembalikan, bukan money politik yang banyak diisukan. Tak ada money politik karena mereka para calon pemilih tidak ada kontrak politik dengan para kandidat.

Berapa harga yang ditawarkan? Masing-masing daerah memiliki nilai dan harga yang beragam. Di satu daerah berada pada kisaran angka 25-50 ribu untuk kandidat daerah terbawah, namun lebih rendah lagi semakin tinggi tingkat strata daerah yang lebih tinggi dan cakupan lebih luas. Sementara di daerah lain tersebar kabar kisaran diatas 50 sampai dengan angka 150. Hemmmm, inikah harga sebuah kebebasan berpolitik?

Arti Kebebasan Berpolitik

Pemilu LuberPemilu bergaung dan menggema hampir keseluruh pelosok negeri. Pemilu dengan asas demokrasi dan slogan LUBER yang diartikan Langsung Umum Bebas dan Rahasia atau diartikan secra khusus yang berarti meluap?

Pemilih diberikan kebebasan yang menjadi rahasia pribadi untuk menyalurkan inspirasi dalam menentukan pilihan, tanpa adanya intimidasi dari pihak manapun. Benarkah hal tersebut terjadi dan berlaku dinegeri ini?

Nan jauh disana, disebuah negeri dongeng masyarakat diberikan kebebasan untuk memilih tanpa harus ada intimidasi ataupun iming-iming, alih-alih adanya pertukaran sebagai harga sebuah pilihan. Itu hanya berlaku di negeri dongeng. Bagaimana dengan negeri ini?

Hampir semua lapisan masyarakat sudah mengenal demokrasi, kebebasan berpendapat, bersuara dan memilih. Bebas jauh dan seakan tidak ada batas sehingga tidak dapat dibedakan dimana jalur politik, jalur pendidikan, jalur ekonomi, sosial, kultur dan budaya bahkan religius. Berbaur dalam satu kesatuan yang sulit dibedakan.

Menyatu dalam satu kepentingan dan tujuan yang sama, meningkatkan kesejahteraan, kemamuran, dan keadilan dalam masyarakat, dengan meningkatkan tingkat perekonomian dan tetap mempertahankan kultur budaya masing-masing serta menanamkan nilai religius di dalamnya.

Sebuah perpaduan yang komplek dan beragam dengan memasukkan berbagai unsur untuk sebuah tujuan mulia, memajukan bangsa yang akan berakibat positif bagi peningkatan ekonomi dan kesejahteraan secara global. Katanya!!!!!!!

Kultur, sosial, ekonomi, bahkan relegius. Betulkah merupakan sebuah tujuan? Atau sekedar kendaraan yang memiliki banyak roda untuk mengantarkan sebuah paket kesuksesan pada tempat dan tujuan dengan lebih cepat? Entahlah. Dimana letak kebebasan berpendapat, dimana titik kerahasiaan dalam menentukan pilihan. Tanpa intimidasi yang mengancam sekalipun tidak secara nyata. Intimidasi secara moral mungkin akan lebih berkibat fatal dalam mengarungi duni politik yang berisi banyak unsur dan faktor untuk mendapatkan kendaraan dengan banyak roda yang dapat bergerak cepat demi tercapainya tujuan dan terminal terdekat.

Tak Lepas dari Urusan Balapan

Tak Lepas dari Urusan BalapanSore menjelang magrib duduk sendiri di beranda rumah sambil menikmati secangkir kopi yang masih hangat sore hari. Menyantaikan diri sambil menunggu bedug magrib tiba, bukan untuk menunaikan ibadah buka puasa, selagi masih ingat dan diberikan kesempatan ingin menunaikan ibadah sholat magrib saja meskipun masih belum diberikan hidayah untuk melangkahkan kaki menuju masjid untuk sholat berjemaah.

Pada dasarnya memang belum tergolong orang yang taat dan tawadduk dalam beribadah dan masih terlalu sering meninggalkan kewajiban sebagai manusia yang mengaku beragama. Loh kok malah ngelantur ni tulisan menyimpang jauh dari topik yang ingin diceritakan seperti judul yang telah direncanakan.

Saat sendiri sambil menghisap asap dari lintingan dalam negeri teringat pada masa lalu. Masa-masa masih aktif sebagai salah satu pengguna radio amatir sekalipun tanpa legalitas dan ijin on air. Waktu ini masih suka utak atik dan belajar dunia elektronika. Berbaur dengan frekuensi rendah (Short Wave) dengan perangkat elektronik sederhana mencoba belajar tentang utak atik oscilator, stabilator tegangan. Dan dari situlah mulai mengenal komponen elektronika dan belajar mempergunakan solder.

Tak lepas dari urusan balapan. Jika dengan frekuensi di radio amatir, urusan balapan apaan? Waktu itu jika sedang mengudara bersama baik dengan kawan-kawan lokal maupun interlokal dari belahan local daerah bahkan propinsi lain waktu itu. Bahkan sudah pernah menjalin komunikasi dengan kawa-kawan dari tanah Sumatera, walaupun tanpa saling bertatap muka diantara satu dengan lainnya, namun candaan dan guyonan dunia on air waktu itu telah memberikan warna kehidupan. Tak jarang pula saling adu kekuatan pemancar yang dipergunakan. Satu orang breaker (sebutan untuk pengguna radio amatir waktu itu) memonitoring dari beberapa breaker lain yang sedang on air bersama pada satu frekuensi. Dihasilkan suara yang amburadul jika beberapa pemancar bertumpuk dalam satu frekuensi (krodit), namun pemancar yang terkuat akan mencuat dan memonopoli modulasi pada frekuensi tersebut.

Balapan dunia on air tidak membahayakan bagaikan balapan liar di jalanan, namun juga ada keasyikan tersendiri setelah mendengarkan rekaman hasil balapan yang diputar oleh breaker yang menjadi juri. Memang tidak ada hadiah dari balapan tersebut. Hanya kepuasan tersendiri dari hasil recording yang dipancarkan ulang setelah lomba dalam hitungan detik dilakukan.

Beberapa tahun berlalu, dan tak lagi bersentuhan dengan pemancar radio amatir setelah semua perangkat saya lelang. Tak lama kemudian saya mengenal computer dan internet. Berawal dari sekedar membuat email dan chating mempergunakan yahoo messenger sekalipun dengan teman dekat dan sangat dekat dalam satu area yang kebetulan belajar membuat email dan mempergunakan yahoo messenger. Beberapa tahun kemudian kenal dengan blogging dan blogwalking, disusul lagi dengan sedikit pengetahuan tentang SEO yang menurut saya masih penuh dengan rahasia (secret) dan teka-teki.

Dalam dunia blogging dan online ternyata masih juga tak dapat lepas dari urusan balapan. Menurut saya masih saja urusan balapan, meskipun dengan teknik dan cara serta hasil yang berbeda. Dalam dunia blogging dan internet, balapan untuk masuk pada halaman pertama hasil pencarian google, bahkan jika perlu masuk sebagai Top Rangking Google. Seakan hidup ini tak lepas dari balapan, selalu bersaing dan berlomba untuk menjadi yang terbaik meskipun standard an skalanya berbeda-beda.

Betul tidak ya, soal SEO juga bisa dikatakan balapan? Lain ladang lain belalang, lain pula mungkin tanamannya.

Siapakah Sang Patriot Kehidupan Kita?

Jika sekedar untuk menjawab sebuah pertanyaan seperti pada judul posting kali ini sepertinya bukan merupakan sesuatu yang menyulitkan. Akan banyak pilihan untuk menunjuk dan merujuk orang-orang tertentu yang telah menjadi pahlawan atau patriot dalam kehidupan kita.Dengan mudah bibir ini akan berucap kedua orang tua adalah patriot bagi kita.

Jika melirik Gambar, Kitakah Sang Patriot? Mungkin ya mungkin juga tidak, mungkin juga ada yang tak layak dan tak pantas disebut sebagai patriot.

Patriot Bangsa, wuih berat untuk kaliber 4.6 sekelas bangsa, patriot dalam keluarga sudah sangat luar biasa, bahkan menjadi patriot bagi diri sendiri.

Tak seujung rambut jika dibandingkan dengan mereka para pejuang bangsa yang telah mengorbankan harta, tahta dan segalanya demi kemerdekaan dan kedaulatan bagsa, walau dari jerih payah dan pengorban para pahlawan juga lahir para patriot-patriot Bagsat yang memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan harta dan tahta.

Dulu sebelum Indonesia merdeka, berjuang memerdekakan bangsa demi kedaulatan bangsa yang bermartabat. saat ini negeri kita telah bebas dari penjajahan (benarkah?), kita berjuang demi kedaulatan dan martabat diri demi harta dan tahta untuk sebuah kedudukan. Sikut kanan dan kiri, bahkan injak bawah agar bisa naik, tak perduli lagi yang penting tujuan tercapai. Apakah seperti ini yang dikatakan Sang Patriot?

Aku hanya bisa berteriak, hanya teriakan yang lantang, sementara fisikku terlalu lemah untuk mengejawantahkan teriakan-teriakan itu. Sementara mereka yang tidak lagi perduli apa yang mereka makan, tidak perduli dengan keluarga mereka, dengan masa depan anak-anak mereka dianggap sebagai sampah. Tak berarti, tak bermutu, tak berguna, tak bermanfaat. Mereka berjuang untuk dapat bertahan hidup namun hanya dijadikan kamuflase kehidupan.

Ingin jadi sang patriot, berteriaklah sekuat mungkin sekalipun hanya teriakan kosong. Berteriaklah dalam suara, dalam tulisan. Dan tulisan ini adalah bukti ketidak mampuan diri untuk menjadi patriot dalam keluarga. Hanya bisa berteriak tanpa ada bukti yang dapat ditampakkan.

Meskipun hanya sekedar menulis yang tak jelas, biarlah tulisan ini berpartisipasi dalam Syukuran di Bulan Maret : Sang Patriot di Kehidupan Kami

Tak Layak Disebut Profesional

Beberapa hari terakhir menyaksikan siaran disalah satu stasiun televisi yang cukup terkenal di negeri ini. Sebuah tayangan hiburan hiburan tersebut dengan menampilkan sosok dengan bakat yang dimilik. Sebuah acara bertajuk Bukan Talent Biasa (BTB). Sebuah penilaian dari para juri yang disebut sebagai jutawan atas rasa salutnya pada seorang intertain yang mampu memberikan hiburan sekalipun sebenarnya dia sedang dalam kekalutan. Tanpa menampakkan situasi dirinya untuk memberikan hiburan dan menghibur penonton televisi diseluruh nusantara dan para penonton yang hadir di studio televisi tersebut khususnya.

Professional, begitu yang disampaikan sebagai tanggapan untuk kandidat BTB tersebut. Sedikit tanggapan singkat yang saya pahami dan peroleh dari tayangan tersebut tentang professional. Professional adalah kemampuan dan kesungguhan seseorang dalam menekuni pekerjaan tanpa terpengaruh kondisi apapun sekalipun itu harus bertentangan dengan kondisi dalam diri. Tanggung jawab dan kewajiban yang harus dilakukan sekalipun kondisi hati sedang kalut dan sedih namun harus dapat melakukan suatu pekerjaan dengan baik tanpa harus menampakkan kondisi yang terjadi sebenarnya. Kurang lebihnya seperti itu.

Tak Layak disebut Profesional. Apa kaitan judul dengan kalimat pembuka pada tulisan ini?

Sejak hari jumat kemaren, sebagai salah satu staff di sebuah lembaga pendidikan, saya absen dan tidak melakukan aktifitas sebagai seorang staff. Bahkan julukan yang diberikan dengan sebutan guru juga tidak saya lakukan. Dapat dikatakan membolos untuk beberapa hari. Bahkan untuk hari selasa dan rabu besok saya harus memberikan pembekalan materi kepada siswa yang akan melakukan praktek kerja industry. Namun jadwal hari pertama sudah tidak dapat saya lakukan dengan alasan pribadi. Sebuah alas an yang seharusnya tidak saya lakukan jika saya ingin bekerja secara professional dan berkompeten.

Sebuah alas an sederhana, kebetulan saya sebagai seseorang yang membutuhkan alat bantu untuk menambah rasa percaya diri dalam melakukan kegiatan tersebut, namun setelah hampir 20 tahun alat bantu tersebut ternyata harus mengalami gangguan dan harus diperbaiki sehingga saya tidak dapat bertindak secara professional untuk melakukan tugas dan kewajiban yang diberikan yaitu menyampaikan materi sebagai tambahan bekal dan pengayaan pada siswa/I yang siap untuk berangkat kedunia industry dengan kegiatan yang dinamakan praktek kerja industry.

Itulah sebabnya dalam judul tulisan ini saya menyebutkan Tak Layak Disebut Profesional. Hanya karena alat bantu kaki yang patah dan perlu diperbaiki, saya harus tidak dapat melakukan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang staff dan mendapatkan julukan guru di hadapan para murid serta kawan-kawan sejawat lainnya. Sungguh tak layak dikatakan sebagai orang yang professional dan berkompeten dengan kondisi dan kenyataan yang dihadapi.

He.. he.. sekedar curhat aja dah, tentang kelemahan diri yang semoga saja tidak melemahkan diri dan orang lain, sekaligus apa yang diceritakan pada tulisan terdahulu bahwa tak selamanya harus original. dan ini terjadi pada diri saya pada salah satu bagian diri saya bukan sesuatu yang original.

Tak Selalu Harus Original

Tak Selalu Harus OriginalOriginal dan bermerk sepertinya sesuatu yang banyak diinginkan.Ada istilah KW1, KW2 dan lain sebagainya seakan orang yang memilih barang dengan kualitas non original hanyalah orang kelas bawah, dan menurut kalangan tertentu mungkin yang dinyatakan dengan KW adalah barang palsu dan melanggar aturan. (tapi sekedar mungkin)


Namun sepertinya tentang kualitas dan merek sangat tergantung dari kemampuan dan keberadaan, saya yakin semua orang menginginkan sesuatu yang berkualitas baik dan original. Tidak ada yang ingin kualitas nomor dua atau selebihnya, ingin memiliki sesuatu yang top dan terbaik.

Jika ditanya tentang original, Kualitas lain selain original atau barang bekas, mana yang akan saya pilih? Saya adalah seorang yang tidak terlalu suka dengan original, meskipun saya menyukai kualitas yang bagus.

Aneh tidak ya? Tidak terlalu suka original tapi menyukai denga kualitas bagus. Apa mungkin kualitas KW dapat menyaman kualitas Original?

Entahlah kalau tentang kualitas, namun yang saya rasakan sesuatu yang bukan original sangat berpengaruh terhadap kehidupan saya. Sesuatu yang tidak original telah mengalami kerusakan, namun mungkin sangat mudah diperbaiki karena onderdil yang dibutuhkan juga bukan peralatan original.

Sejak tadi siang sesuatu yang menemani selama hampir 20 tahun tak dapat lagi bersanding, dan semoga segera dapat dijadikan teman yang selalu setia. Apa itu gerangan? Tunggu saja cerita selanjutnya. Bagi mereka yang sudah dikaruniai sesuatu yang original, rawatlah dengan baik dan selalulah bersyukur dengan karunia dan kemampuan yang diberikan atas sesuatu yang original.

Bincang – Bincang Tentang Kesuksesan

Bincang – Bincang Tentang KesuksesanJam sudah hampir menunjukkan tengah malam, tapi dua lelaki muda itu masih asyik dengan obrolannya. Obralan kesana kemari tak jelas topic pembahasan yang seharusnya. Politik, ekonomi, agama, usaha dan masih banyak permasalahan yang dibicarakan walau tidak jelas ujung pangkalnya. Wong bukan pakar politik, bukan seorang ekonom, juga bukan orang yang alim soal agama dan tidak sedang menjalankan sebuah usaha. Perbincangan tak jelas dan entah kemana arah tujuannya dan hasilnya juga sebatas omong kosong dan hilang ditelap gelapnya malam dalam buaian angin dan larut dalam mimpi masing-masing.

Satu topic yang menjadi hal menarik menurut pengelola CITROSBLOG dalam perbincangan tidak jelas tersebut yang hanya menghabiskan beberapa cangkir kopi dan berbatang penghasil asap tanpa harus di dapatkan sebuah kejelasan dari berbagai topic yang dibicarakan. Sebagai kesimpulan tetap atak ada kesimpulan.

Sebuah topic tentang kesuksesan dan orang sukses. Siapa sih sebenarnya orang yang sukses di kampong ini, cetus si A mengawali topic baru tentang kesuksesan dan orang sukses.

Ogah ah, aku tak mau jawab dan menunjuk siapa orang yang menurut saya sukses. Paling-paling ntar juga dibantah ma kamu jawab si B.

Sepertinya perbincangan malam itu bagaikan saling mematahkan pendapat walau tidak seperti dalam sebuah perdebatan antar caleg atau debat presiden yang sering kita tonton di televisi.

Si A mulai menyebut beberapa nama dari yang tergolong memiliki kemampuan financial cukup sampai yang tak tergolong dalam kehidupan garis kemiskinan. Apakah dia, yang sudah memiliki rumah bagus, mobil bagus dan serba baguslah menurut kamu orang sukses, atau dia yang mungkin secara financial tidak memiliki apa yang menjadi standar ukur kesuksesan seseorang secara umum? Tanya si A lagi.

Ogak ah, ntar juga kalau bilang yang itu masih ada bantahan, bilang itu juga ada bantahan. Tapi kalau saya ingat perkataan seorang teman bahwa di kampung ini ada orang sukses. Dan setelah saya amati sekalipun tidak terlalu jauh memang benar juga kata teman itu. Dia bukan tergolong orang kaya, bahkan sangat mungkin dia tergolong orang yang untuk dimakan hari ini harus mencari sekarang, tapi kenapa dia masih sempat untuk berbagi dengan tetangga walau tidak setiap saat. Mungkin beliau bisa dikatakan sebagai orang sukses.

Jadi menurut kamu dia orang yang sukses, Tanya si A. apa yang akan dimakan aja terkadang masih susah. Jadi orang sukses itu rela bersusah diri hanya untuk sekedar berbagi dengan tetangga sekalipun tetangganya tergolong orang yang mampu, begitu???

Auuuukkk, ah… bingung ngomong ma kamu. Selalu dibantah. Ketus si B.

La, katanya kamu ingin sukses. Makanya harus cari contoh dulu seperti apa menurut kita dan menurut orang lain yang dikatakan sebagai orang sukses. Kalau tidak ada tolak ukurnya, kapan kita akan sukses. Maka kita akan selalu gagal dong.

Udah capek, ngantuk aku mau tidur. Kata si B sambil bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan paseban yang jadi tempat perbincangan malam itu.

Dari sedikit ilustrasi dan ilusi diatas, apa yang menjadi tolak ukur kesuksesan? Harga, kekayaan, jabatan atau hal lain. Nah sebagai penutup dan kesimpulan obrolan malam itu bahwa tidak ada kesimpulan yang dihasilkan.